OPSI Bawaslu Lombok Tengah Bahas Makna Ulil Amri dalam Menjalankan Tugas Pengawasan
|
Praya — Bawaslu Kabupaten Lombok Tengah menggelar agenda Obrolan Spiritual dan Integritas (OPSI), Kamis (01/10). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Ulil Amri dalam Ber-Bawaslu” sebagai ruang refleksi bagi jajaran pengawas pemilu dalam memperkuat nilai spiritual, integritas, serta etika dalam menjalankan tugas dan kewenangan.
Kegiatan OPSI menghadirkan Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kabupaten Lombok Tengah, Usman Faesal, sebagai pembicara.
Dalam penyampaiannya, Usman menekankan pentingnya memahami makna ulil amri serta membangun sikap taat dan menghormati pemimpin selama kepemimpinan tersebut berjalan dalam koridor kebaikan dan aturan yang berlaku.
Menurutnya, kepatuhan terhadap pemimpin bukan sekadar persoalan hubungan struktural dalam organisasi, tetapi juga berkaitan dengan sikap moral dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah.
“Menaati dan menghormati pemimpin merupakan bagian dari sikap yang harus kita bangun dalam kehidupan organisasi. Selama kepemimpinan itu berada dalam koridor kebaikan dan aturan, maka kita berkewajiban untuk menghormati dan menaati keputusan yang telah ditetapkan,” ujar Usman.
Ia menjelaskan, dalam konteks kelembagaan Bawaslu, nilai tersebut dapat diterapkan melalui sikap disiplin, loyal terhadap kelembagaan, serta kesediaan menjalankan tugas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Usman juga mengingatkan bahwa setiap jajaran Bawaslu memiliki tanggung jawab yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga merupakan amanah publik. Karena itu, pelaksanaan tugas pengawasan harus dilandasi integritas dan kesadaran bahwa setiap tindakan pengawas akan berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat terhadap lembaga.
“Ber-Bawaslu bukan hanya bagaimana kita menjalankan aturan, tetapi juga bagaimana kita menjaga amanah. Integritas harus menjadi dasar dalam setiap tindakan, karena masyarakat menaruh kepercayaan kepada kita untuk mengawal proses demokrasi,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa perbedaan pandangan dalam sebuah organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut perlu ditempatkan dalam mekanisme kelembagaan yang sehat dengan tetap mengedepankan etika, komunikasi, dan penghormatan terhadap struktur organisasi.
Menurutnya, kepemimpinan yang baik harus berjalan beriringan dengan sikap anggota yang mampu menghargai keputusan bersama. Dengan demikian, soliditas kelembagaan dapat terus terjaga dalam menghadapi berbagai tantangan tugas pengawasan pemilu.
“Kita boleh berbeda dalam pandangan, tetapi ketika keputusan kelembagaan sudah diambil melalui mekanisme yang benar, maka kita harus menghormatinya dan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Di situlah salah satu bentuk integritas kita sebagai bagian dari Bawaslu,” jelasnya.
Melalui kegiatan OPSI, Bawaslu Kabupaten Lombok Tengah berharap nilai-nilai spiritual dapat menjadi bagian dari penguatan karakter jajaran pengawas. Nilai keagamaan, integritas, dan profesionalitas diharapkan tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga diwujudkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
OPSI menjadi salah satu ruang internal Bawaslu Kabupaten Lombok Tengah untuk membangun refleksi bersama, memperkuat hubungan antarjajaran, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa tugas pengawasan pemilu merupakan amanah yang harus dilaksanakan secara jujur, adil, dan bertanggung jawab.
Penulis: Dwi HJ
Foto: Dwi HJ
Editor: Dwi HJ