Lompat ke isi utama

Berita

Bangun Kesadaran Demokrasi Sejak Dini, Bawaslu Lombok Tengah Edukasi Santri Nurul Irsyad

Bangun Kesadaran Demokrasi Sejak Dini, Bawaslu Lombok Tengah Edukasi Santri Nurul Irsyad

Ketua Bawaslu Kabupaten Lombok Tengah, Lalu Fauzan Hadi, menyampaikan materi Sosialisasi Pengawasan Partisipatif di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Irsyad, Desa Setiling, Kecamatan Batukliang Utara, Sabtu (08/11). 

Praya — Dalam upaya memperkuat literasi kepemiluan di kalangan generasi muda, Bawaslu Kabupaten Lombok Tengah menggelar kegiatan Sosialisasi Pengawasan Partisipatif di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Irsyad, Desa Setiling, Kecamatan Batukliang Utara, Sabtu (08/11). Agenda ini merupakan bagian dari rangkaian program unggulan Santri Awasi Pemilu (SAPA) yang digagas Bawaslu Lombok Tengah dalam rangka menumbuhkan kesadaran pengawasan pemilu berbasis komunitas pesantren.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh pimpinan dan dewan guru Ponpes Nurul Irsyad, perwakilan staf Bawaslu Lombok Tengah, serta ratusan santri dan santriwati yang antusias mengikuti jalannya sosialisasi. Melalui kegiatan ini, Bawaslu berharap para santri dapat memahami pentingnya peran mereka dalam menjaga kemurnian proses demokrasi, terutama menjelang pelaksanaan Pemilu Serentak mendatang.

Dalam sambutannya, Ketua Bawaslu Kabupaten Lombok Tengah, Lalu Fauzan Hadi, menyampaikan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam menciptakan budaya demokrasi yang sehat dan berintegritas. Ia menekankan bahwa nilai-nilai kejujuran, amanah, dan tanggung jawab yang diajarkan di pesantren sejalan dengan prinsip dasar pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil.

“Ibarat pemilihan ketua OSIM di sekolah, begitulah pemilu dilaksanakan. Ada calon, ada pemilih, dan ada pengawas. Bawaslu hadir untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan agar hasilnya adil dan dapat dipercaya,” ujar Fauzan di hadapan para santri.

Lebih lanjut, Fauzan menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pelaksanaan pemilu adalah praktik politik uang. Ia mengingatkan bahwa menerima atau memberi imbalan untuk memengaruhi pilihan politik merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap nilai demokrasi.

“Pemilih pemula harus berani menolak sogok menyogok. Jangan sampai masa depan bangsa ini ditukar dengan uang seratus ribu. Pemilu bukan soal menang atau kalah, tetapi soal menjaga amanah rakyat,” tegasnya.

Selain sambutan dari Ketua Bawaslu, kegiatan juga diisi dengan pemaparan materi oleh staf Bawaslu Lombok Tengah yang menjelaskan berbagai aspek penting seputar pengawasan pemilu. Di antaranya, pengenalan tentang apa itu Bawaslu, tugas dan fungsi pengawasan, siapa saja penyelenggara pemilu, serta peran masyarakat dalam mencegah dan menindak pelanggaran pemilu.

Para santri tampak aktif bertanya dan berdiskusi seputar isu-isu kepemiluan, termasuk tentang bagaimana cara melaporkan pelanggaran serta pentingnya menjaga netralitas di lingkungan sekitar. Narasumber juga menekankan bahwa pengawasan partisipatif tidak hanya dilakukan oleh lembaga formal, tetapi juga membutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Menariknya, di penghujung acara, panitia menyelenggarakan kuis interaktif dengan hadiah menarik bagi peserta yang mampu menjawab pertanyaan seputar kepemiluan dan tugas Bawaslu. Suasana menjadi semakin meriah ketika para santri berlomba-lomba menjawab pertanyaan yang diberikan, menandakan semangat dan antusiasme mereka terhadap kegiatan tersebut.

Melalui program Santri Awasi Pemilu (SAPA) ini, Bawaslu Lombok Tengah berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan edukasi pengawasan partisipatif, terutama di lingkungan pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan. Pesantren dianggap memiliki potensi besar dalam membentuk karakter pemilih yang berintegritas, kritis, dan bertanggung jawab terhadap masa depan demokrasi Indonesia.

“Harapan kami, para santri tidak hanya menjadi pemilih cerdas, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di masyarakat. Dengan semangat kejujuran dan kepedulian sosial yang ditanamkan di pesantren, kita yakin pemilu mendatang bisa berlangsung damai, berintegritas, dan bermartabat,” tutup Fauzan.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Bawaslu Lombok Tengah semakin memperkuat kolaborasi dengan kalangan santri sebagai mitra strategis dalam mewujudkan pengawasan pemilu yang inklusif, edukatif, dan berbasis nilai-nilai moral keagamaan.

 

Bangun Kesadaran Demokrasi Sejak Dini, Bawaslu Lombok Tengah Edukasi Santri Nurul Irsyad

Penulis: Dwi HJ

Foto: Sanusi

Editor: Dwi HJ